Kamis, 25 April 2013

Drama (materi kelas XI semester 2)


TEORI DRAMA

    Pementasan yang memerankan beberapa karakter tokoh dalam sebuah naskah itulah disebut pementasan drama, Pernah dapat sebuah materi bahasa indonesia yang berjudul drama? Saya yakin pasti jawabannya sudah. Kebanyakan orang senang menyaksikan sinetron yang ada di televisi, itulah salah stu contoh sebuah drama. nah...dalam pelajaran bahasa indonesia kelas XI pasti kita akan mengulas sebuah materi drama dan belajar praktek drama, asyik kan...? sebelum di praktekan kita harus tahu teori tentang drama, mari kita simak materi tentang drama terlebih dahulu di bawah ini.
Drama adalah karya seni berupa dialog yang dipentaskan. Drama adalah salah satu metode penyampaian pesan melalui dialog kepada penonton.
Menurut jenisnya, pementasan drama dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu drama tragedi, drama komedi, melodrama, dan dagelan.
1. Drama tragedi adalah drama yang melukiskan kisah sedih. Tokoh-tokohnya menggambarkan kesedihan. Tokoh dalam drama tragedi ini disebut tragic hero artinya pahlawa yang mengalami nasib tragis.
2. Drama komedi adalah drama yang bersifat menghibur, di dalamnya terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir , dan biasanya berakhir dengan kebahagiaan. Tokoh-tokoh dalam drama jenis ini biasanya tolol, konyol, atau bijaksana tetapi lucu.
3. Melodrama adalah cerita yang sentimental. Artinya tokoh dan cerita yang disuguhkan mendebarkan dan mengharukan. Tokoh dalam jenis drama ini biasanya digambarkan hitam-putih. Tokoh jahat digambarkan serba jahat, sebaliknya tokoh baik digambarkan sangat sempurna baiknya hingga tidak memiliki kesalahan dan kekurangan sedikit pun.
4. Dagelan (farce) adalah drama kocak dan ringan. Alurnya disusun berdasarkan perkembangan situasi tokoh. Isi cerita biasanya kasar dan fulgar. Drama jenis ini juga disebut
komedi murahan atau komedi picisan.

Adapun unsur-unsur drama adalah:
1. Tema
2. Setting atau Latar
3. Alur atau Plot
4. Penokohan atau Perwatakan
5. Amanat
6. Bloking dan Akting
7. Tata Pentas.
Dalam Kurikulum 2006, analisis drama banyak diarahkan pada analisis tentang penokohan.
Tokoh dalam drama dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan peran terhadap jalan cerita, ada tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan tokoh tritagonis.
a. Tokoh protagonis adalah tokoh utama cerita yang pertama-tama menghadapi masalah. Tokoh ini biasanya didudukkan penulis sebagai tokoh yang memperoleh simpati pembaca/penonton karena memiliki sifat yang baik.
b. Tokoh antagonis adalah tokoh penentang tokoh protagonis.
c. Tokoh tritagonis disebut juga tokoh pembantu, baik membantu tokoh protagonis maupun antagonis.
2. Berdasarkan peran dalam lakon serta fungsinya, ada tokoh sentral, tokoh utama, dan tokoh pembantu.
a. Tokoh sentral adalah tokoh-tokoh yang paling menentukan gerak lakon. Tokoh sentral merupakan biang keladi pertikaian. Dalam hal ini tokoh sentral adalah tokoh protagonis dan tokoh antagonis.
b. Tokoh utama adalah pendukung atau penentang tokoh sentral. Mereka dapat berperan sebagai perantara tokoh sentral. Dalam hal ini, yang berperan sebagai tokoh utama ialah tokoh tritagonis.
c. Tokoh pembantu yaitu tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam mata rantai cerita. Kehadiran tokoh pembantu ini hanya menurut kebutuhan cerita. Tidak semua lakon drama menghadirkan tokoh pembantu.
   Mengenal dan memahami tokoh mutlak dilakukan oleh calon pemeran, sebab akan memungkinkannya mengenal benar hubungan tokoh yang akan diperankannya dengan tokoh-tokoh lainnya. Dengan demikian, akan memperjelas sifat dan perilaku tokoh yang harus diperankannya.
Membaca naskah dan memahami tokoh harus diikuti dengan latihan pementasan. Latihan-latihan ini meliputi:
1. latihan sikap, gerak atau perbuatan agar tidak canggung, tidak kaku , dan tidak overacting,
2. latihan blocking (perpindahan dari satu tempat ke tempat lain),
3. latihan dialog (pembicaraan dengan tokoh lain) secara tepat,
4. latihan gesture (gerakan tangan dan kaki) secara wajar,
5. latihan vokal dengan artikulasi yang tepat,
6. latihan menggambarkan watak secara wajar,
7. latihan mimik (ekspresi wajah) sehingga agar meyakinkan penonton,
8. latihan pantomimik (gerakan-gerakan tubuh), dan
latihan memanfaatkan segala properti dan situasi pentas dengan baik.
Yang perlu dipahami, dialog pemain tidak harus sama persis dengan yang tertulis dalam teks. Pemain boleh saja menambahi atau mengurangi agar tercapai tingkat penjiwaan yang lebih tinggi.
                                                                                                                                       
                                                                                                                                        14 Maret 2013

2 komentar: